Ada yang berbeda di kantor IKAPI Jawa Barat hari ini. Di sudut ruangan, sebuah poster baru terpasang. Dua karakter menatap siapa pun yang melintas. Satu berwujud buku oranye yang berdiri tegak dengan jubah merah berkibar, satu lagi seekor burung hantu cokelat keemasan dengan sayap terentang lebar. Keduanya tampak seolah sedang menunggu. Menunggu petualangan berikutnya. Menunggu seseorang yang mau diajak terbang.
Nama mereka: BUKI dan OWLI. Dan dunia literasi Jawa Barat tidak akan pernah sama lagi.
BUKI: Sang Buku yang Memilih untuk Hidup
Bayangkan sebuah buku yang pada suatu hari, entah karena sihir atau karena terlalu sering dibaca dengan cinta, memutuskan untuk bangkit dan berjalan. Itulah BUKI, kependekan dari Buku Kita.
Tubuhnya oranye menyala, warna yang tidak bisa diabaikan, warna yang menuntut perhatian bahkan dari sudut ruangan yang paling jauh sekalipun. Di atas kepalanya bertengger sebuah topi kasual berwarna biru langit. Bukan topi seorang profesor tua yang menghabiskan hidupnya di perpustakaan berdebu, melainkan topi seorang petualang yang tahu persis ke mana ia hendak pergi. Di topi itu tersemat gambar pensil bersayap kecil, seolah bahkan alat tulis pun rindu untuk terbang bebas.
Yang paling menarik perhatian adalah kacamata goggle teknologi yang melingkar di matanya. Bukan kacamata biasa. Di layar kacanya tertera kata-kata yang tampak seperti mantra: data, riset, inovasi, kolaborasi, literasi untuk negeri hebat. BUKI memandang dunia melalui lensa itu. Setiap sudut ia lihat sebagai peluang, setiap halaman ia baca sebagai peta menuju cakrawala yang belum pernah dijelajahi siapa pun.
Jubah merahnya berkibar meski tidak ada angin. Hal semacam itu memang selalu terjadi pada para pahlawan. Jubah mereka berkibar karena semangat, bukan karena cuaca. Di dadanya tersemat lambang bunga biru berbentuk bintang dengan huruf “B” yang bersinar, seperti lencana kehormatan yang hanya diberikan kepada mereka yang benar-benar layak menyandangnya.
Dan di kakinya, ini yang membuat BUKI terasa begitu dekat dan nyata, sepatu sneakers biru-putih yang sudah sedikit lusuh karena terlalu sering dipakai berlari. Bukan berlari menghindari sesuatu. Berlari menuju sesuatu. Menuju sekolah-sekolah yang membutuhkan lebih banyak buku. Menuju anak-anak yang belum pernah merasakan bagaimana rasanya terhanyut dalam sebuah cerita yang bagus. Menuju masa depan yang masih perlu dibangun satu halaman demi satu halaman.
Tangannya melambai dengan senyum yang begitu tulus sehingga siapa pun yang melihatnya akan sulit untuk tidak tersenyum balik. BUKI membawa kemampuan-kemampuan yang ia asah dengan tekun. Visi Literasi Futuristik: kemampuan memandang jauh melampaui apa yang tampak di depan mata, melihat Indonesia yang lebih cerdas dan berdaulat pengetahuan. Perisai Pengetahuan: perlindungan yang ia tawarkan kepada setiap anak yang mau berlindung di bawah naungan buku.
Ia adalah Penyebar Inspirasi yang percaya bahwa satu buku yang tepat bisa mengubah arah hidup seseorang selamanya. Sebagai Penggerak Minat Baca, BUKI tidak pernah menyerah pada anak yang berkata “saya tidak suka membaca”. Karena ia tahu, mereka hanya belum menemukan buku yang tepat. Dan Semangat Edukasi Tanpa Batas-nya adalah bukti bahwa belajar tidak mengenal batas: tidak batas usia, tidak batas tempat, tidak batas waktu.
BUKI melambangkan buku sebagai sumber ilmu yang tak terbatas: aktif, kreatif, dan selalu siap menginspirasi siapa pun yang berani membuka halamannya.
OWLI: Si Burung Hantu yang Tahu Rahasia Dunia
Kalau BUKI adalah api yang menyala-nyala, maka OWLI adalah cahaya rembulan: lebih tenang, lebih dalam, namun tak kalah terang.
OWLI adalah Owl Literasi, seekor burung hantu kecil berwarna cokelat keemasan yang sejak pertama kali membuka matanya di dunia ini sudah tahu bahwa ia ada untuk suatu tujuan yang besar. Mata bulatnya yang besar menyimpan segala yang pernah dibaca, didengar, dan dipelajarinya. Ada kehangatan di sana, tapi juga ketajaman, seperti mata seorang guru terbaik yang selalu tahu persis kapan muridnya membutuhkan dorongan dan kapan membutuhkan pelukan.
Sayapnya terbentang lebar dalam posisi yang bukan hanya terbang. Ini adalah posisi merangkul. Setiap inci dari rentang sayapnya berbicara tentang kolaborasi: tidak ada yang bisa menyelamatkan dunia literasi sendirian, dan OWLI tahu itu lebih baik dari siapa pun. Warna cokelat keemasannya berkilau selaras dengan warna oranye BUKI. dua warna yang berbeda, tapi ketika berdampingan menciptakan harmoni yang justru lebih kaya dari keduanya secara terpisah.
Dalam ribuan tahun tradisi manusia dari berbagai penjuru bumi, burung hantu selalu dipilih sebagai simbol kebijaksanaan. OWLI mewarisi warisan itu dengan rendah hati, lalu menambahkan sesuatu yang baru: keceriaan. Kebijaksanaan tidak harus selalu terasa berat dan serius. Bisa juga terasa seperti percakapan hangat di sore hari, seperti cerita sebelum tidur, seperti teman perjalanan yang selalu tahu jalan pulang.
Sebagai Pengintai Wawasan, OWLI selalu terjaga bahkan ketika dunia tidur. Memastikan tidak ada pengetahuan penting yang terlewat, tidak ada perkembangan yang luput dari pantauan. Dengan kemampuan Terbang Kolaborasi-nya, ia menjadi jembatan hidup yang menghubungkan penerbit dengan pembaca, penulis dengan komunitas, sekolah dengan perpustakaan. Ia adalah Penjaga Kebijaksanaan yang memastikan nilai-nilai luhur tidak ikut terkubur bersama buku-buku yang tidak lagi dibaca. Naluri Pemandu Solusi Kreatif-nya selalu menyala ketika semua orang sudah menyerah dan berkata tidak ada jalan keluar, karena OWLI selalu menemukan satu. Dan sebagai Penyebar Ilmu Pengetahuan, ia terbang ke tempat-tempat yang bahkan kendaraan darat tidak bisa menjangkaunya, membawa serta cahaya literasi ke setiap sudut yang paling terpencil sekalipun.
Sahabat sejati BUKI. Penjaga setia generasi muda. Itu OWLI.


Sebuah Misi yang Lahir dari Kegelisahan
BUKI dan OWLI tidak lahir dari kekosongan. Mereka lahir dari sebuah kegelisahan yang sudah lama membara di dalam dada para pecinta buku Indonesia: bahwa di negeri yang kaya ini, masih terlalu banyak anak yang tumbuh tanpa pernah benar-benar merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta pada sebuah buku.
Maka ditetapkanlah misi mereka, empat pilar yang menjadi fondasi setiap langkah yang mereka ayunkan.
Menumbuhkan budaya membaca sejak dini, karena kebiasaan adalah benih yang harus ditanam di musim yang tepat. Anak yang tumbuh bersama buku akan membawa kebiasaan itu seumur hidupnya, dan kelak mengajarkannya kepada anak-anaknya sendiri. Menginspirasi kreativitas dan inovasi, karena buku adalah laboratorium imajinasi terbesar yang pernah ada, tempat di mana ide-ide gila paling revolusioner pertama kali mengambil bentuk sebelum mengubah dunia. Membangun karakter dan pengetahuan generasi muda, karena bangsa yang beradab lahir bukan hanya dari sekolah yang bagus, tetapi dari generasi yang gemar membaca dan mampu berpikir dalam. Membentuk masa depan bangsa yang cerdas dan berdaya saing, karena dalam peradaban global yang bergerak secepat ini, hanya bangsa yang literat yang mampu berlari seiring zaman tanpa kehilangan identitasnya.
Tiga Nilai, Satu Jiwa
Jika BUKI dan OWLI punya tiga kata yang selalu mereka ulang dalam setiap langkah dan kepakan sayap mereka, tiga kata itu adalah: produktif, inovatif, kolaboratif.
Produktif, karena semangat saja tidak cukup tanpa karya nyata yang bisa dilihat, dibaca, dan dirasakan manfaatnya. Inovatif, karena dunia literasi yang stagnan adalah dunia literasi yang perlahan mati, dan BUKI serta OWLI tidak pernah mau membiarkan itu terjadi. Kolaboratif, karena baik BUKI maupun OWLI paham bahwa cahaya satu lilin tidak akan pernah mampu menerangi seluruh ruangan, tapi ribuan lilin yang saling menyulut satu sama lain bisa mengubah malam menjadi siang.
Ketika Buku Memilih untuk Hidup
Ada sebuah quote lama yang mengatakan bahwa buku adalah jendela dunia. BUKI dan OWLI setuju sepenuhnya, tapi mereka ingin melangkah lebih jauh. Mereka tidak ingin kamu hanya mengintip dunia melalui jendela. Mereka ingin kamu membuka jendelanya. Memanjat keluar. Dan berlari bebas di padang pengetahuan yang membentang tanpa batas di luar sana.
Maka ketika BUKI melambaikan tangannya dan OWLI mengepakkan sayapnya, mereka sedang mengucapkan undangan yang paling tulus yang pernah ada:
“Ayo. Ada dunia yang menunggu untuk dijelajahi. Dan semuanya dimulai dari satu halaman pertama.”
Karena seperti yang selalu IKAPI Jawa Barat yakini, dan kini disuarakan oleh dua superhero barunya dengan lantang:
“Setiap buku adalah kekuatan. Setiap anak adalah harapan. Bersama Buki & Owli, kita selamatkan masa depan melalui literasi.”
Dan di atas segalanya — dalam keheningan setelah semua hiruk pikuk mereda, ketika malam tiba dan dunia akhirnya beristirahat — selalu ada satu tempat yang paling aman untuk kembali:
“Buku, Ruang Tenang Kita.”
Literasi Membangun Negeri. Penerbitan Menginspirasi Generasi.





