Petualangan Buki dan Owli: Rahasia Bunga Ilmu dari Dayeuh Luhur

buki & owli 01

Di sebuah pemukiman yang tenang di belakang Pendopo Bandung (kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Pasundan), Buki sedang asyik merapikan halaman bukunya. Tiba-tiba, sepupunya, Uwi (Dewi Sartika kecil), datang dengan wajah sedih.

“Buki,” bisik Uwi, “Lihatlah ke luar. Anak-anak di desa kita tak lagi bermain oray-orayan atau perepet jengkol. Mereka diam, murung, dan sepertinya lupa cara bercerita. Hatiku sedih melihatnya.”

Buki melihat ke arah jendela. Benar kata Uwi, suasana desa terasa hampa. Owli, burung hantu setianya, berkedip cemas di bahu Buki.

“Huu… Huu… Cahaya di mata mereka meredup, Buki,” gumam Owli.

Melihat keresahan Uwi, Buki segera melangkah menuju sebuah bangunan kayu berukir di sudut Pendopo. Di sana, duduklah Aki Wira, seorang sesepuh yang rambut dan janggutnya sudah seputih kapas, namun matanya tetap tajam menatap zaman. Ia sedang menyesap teh hangat dari cangkir batok kelapa saat Buki dan Owli datang bersimpuh.

Aki Wira terdiam sejenak mendengarkan cerita mereka. Ia mengelus janggut putihnya yang panjang dengan gerakan perlahan, lalu menghela napas yang terdengar seperti desiran angin di hutan bambu.

“Kasep, geulis…” suara Aki Wira berat dan bergetar, penuh wibawa. “Anak-anak itu tidak sakit badannya, tapi layu jiwanya. Akar Imajinasi di tanah ini sedang mengering karena jarang disiram oleh tutur kata dan cerita. Jika dibiarkan, mereka akan tumbuh menjadi raga yang berjalan tanpa cahaya di kepala.”

Ia menatap Buki dengan lekat, lalu beralih ke Owli yang bertengger siaga.

“Hanya ada satu cara untuk menyuburkannya kembali. Kalian harus menjemput Bunga Ilmu di Dayeuh Luhur, Sumedang. Itu bukan sembarang bunga yang tumbuh di tanah, melainkan sari pati kebijaksanaan para leluhur yang tersimpan di tempat paling tinggi dan suci.”

Aki Wira kemudian menunjuk ke arah timur, ke balik barisan gunung yang membiru.

“Di sana, di puncak yang berselimut kabut, bunga itu hanya akan mekar dan menampakkan cahayanya bagi mereka yang berani melangkah dengan niat tulus serta membawa buku sebagai pelitanya. Pergilah, bawa kembali napas cerita ke Pasundan ini sebelum fajar literasi benar-benar padam.”

Buki merasakan dadanya bergetar hebat. Misi ini bukan lagi sekadar perjalanan biasa, melainkan sebuah amanah besar untuk menyelamatkan masa depan teman-temannya.

“Huu… Huu… Kami siap, Aki,” sahut Owli, mengepakkan sayapnya dengan mantap, seolah ikut berjanji pada sang sesepuh.

***

Matahari mulai naik tinggi saat Buki dan Owli mencapai wilayah Ujungberung. Di pinggir sebuah pematang sawah yang luas, mereka melihat sesosok pria memakai sarung yang diselempangkan dan iket kepala yang agak miring. Ia sedang duduk melamun di bawah pohon sirsak, menatap kerbaunya yang juga sedang malas-malasan.

“Owli, lihat. Itu kan Mang Kabayan?” bisik Buki.

“Huu… Huu… Sepertinya dia sedang kehilangan semangat, Buki,” jawab Owli.

Buki menghampiri pria itu. “Sampurasun, Mang Kabayan! Sedang apa melamun di sini? Bukannya sawah harus segera dibajak?”

Kabayan menoleh perlahan, matanya sayu. “Rampes, kasep… Duh, Buki. Amang teh keur bingung. Awak asa lungse, pikiran melayang ka mana-mana. Hayang digawe teh asa berat pisan, mending keneh sare bari ngadagoan nangka murag,” keluh Kabayan dengan logatnya yang khas.

Buki tersenyum. Ia tahu Kabayan hanya butuh “percikan” di kepalanya. Buki membuka tas bukunya dan mengeluarkan sebuah buku kecil bersampul cerah.

“Mang, daripada melamun tidak karuan, coba baca ini sebentar. Ini buku cerita jenaka tentang orang cerdik dari negeri seberang,” ujar Buki sambil menyerahkan buku itu.

Kabayan menerima buku itu dengan ragu. “Naha, bisa kitu buku nyieun urang sumangat? Cik urang baca…”

Hening sejenak. Mata Kabayan mulai bergerak mengikuti tulisan. Tiba-tiba… “Pfftt… Hahaha! Aduh, ieu mah lucu pisan! Naha aya jelema pinter kitu jiga Amang?” Kabayan tertawa terpingkal-pingkal sampai memukul-mukul lututnya. Tawanya membuat burung-burung di sawah terbang, dan kerbaunya pun kaget.

“Nah, Mang! Kalau hati sudah senang, badan jadi ringan, kan?” seru Buki.

Kabayan berdiri dengan sigap, melipat sarungnya ke pinggang. “Bener pisan, Buki! Hatur nuhun! Pikiran Amang jadi caang deui. Geus ah, Amang rek langsung mulasara sawah supaya engke bisa meuli buku deui jiga kieu. Jung arangkat, kade di jalan bisi aya nu jail!”

Buki dan Owli berpamitan. Kabayan kini tampak bersemangat mencangkul sambil sesekali terkekeh mengingat isi buku tadi.

“Huu… Satu buku, satu senyuman,” gumam Owli puas. Mereka pun melanjutkan langkah menuju Jatinangor.

***

Setelah melewati rimbunnya perkebunan Jatinangor, jalanan mulai menyempit dan menanjak tajam. Di sisi kiri adalah tebing cadas yang kokoh, dan di sisi kanan adalah jurang dalam yang tertutup kabut. Inilah Cadas Pangeran.

Tiba-tiba, di atas sebuah batu besar dekat patung Pangeran Kornel, mereka melihat Sakadang Monyet sedang garuk-garuk kepala. Di tangannya ada selembar peta tua dari kulit kayu yang sudah lecek.

“Duh, naha ini garis ke mana, itu gunung di mana? Bisa-bisa saya nyasar ke kandang macan!” keluh Si Monyet sambil membolak-balik peta.

Buki menghampiri dengan tenang. “Sampurasun, Sakadang Monyet. Sepertinya kamu butuh bantuan?”

Monyet melompat kaget, lalu matanya yang licik berkilat melihat Buki. “Eh, ada anak manusia membawa buku! Iya, kasep. Saya mau ke Desa Pasanggrahan cari pohon buah, tapi peta ini bahasa manusia. Pusing saya bacanya!”

Buki mengambil peta itu, membacanya dengan teliti, lalu menjelaskan jalur rahasia di balik tebing. Namun, Owli yang sejak tadi diam, menatap tajam dengan mata kuningnya yang besar.

“Huu… Huu… Hati-hati, Monyet. Jangan kau coba-coba menipu kami dengan peta palsu itu,” ujar Owli dengan suara berat yang berwibawa.

Monyet itu menciut. “E-eh, Sakadang Owli! Kenapa bicara begitu? Saya ini monyet jujur!”

Owli terbang rendah, mengitari kepala Monyet. “Jujur atau karena takut tersesat sendirian di cadas ini? Aku tahu, peta itu milik pengembara yang kau curi kemarin, kan?”

Monyet itu nyengir lebar, memamerkan giginya. “Ah, Sakadang Owli memang matanya paling tajam! Iya, iya, saya mengaku. Tapi begini saja, karena Buki sudah membantu menerjemahkan rute maut di Cadas Pangeran ini, saya berikan rahasianya: Jangan lewat jalan besar, lewatlah ‘Jalur Akar’ di balik pohon beringin itu. Itu jalan tercepat menuju Dayeuh Luhur!”

Monyet itu kemudian berbisik pelan kepada Buki, “Terima kasih, kasep. Tapi tolong, jauhkan burung hantu galak itu dariku!”

Buki tertawa kecil. “Terima kasih atas petunjuknya, Sakadang Monyet. Ingat, jangan suka mencuri lagi, ya!”

Monyet itu hanya melambaikan tangan sambil melompat lincah ke dahan pohon, menghilang di balik kabut Cadas Pangeran. Buki dan Owli kini punya jalur rahasia untuk segera sampai ke tujuan.

***

Setibanya di puncak Dayeuh Luhur, Buki dan Owli disambut oleh kepulan asap kemenyan yang harum dan suara angin yang tenang. Di depan pintu gerbang situs, berdirilah seorang pria berwibawa dengan pakaian takwa berwarna putih dan bendo khas Sumedangan. Beliau adalah Pangeran Aria Suria Atmadja.

“Wilujeng sumping, kasep,” sapa beliau dengan suara yang berat namun menyejukkan. “Aku sudah mendengar kabar dari Aki Wira di Bandung bahwa seorang pembawa buku akan datang.”

Buki membungkuk hormat. “Sembah bakti sim kuring, Pangeran. Saya datang mencari Bunga Ilmu atas permintaan sepupu saya, Uwi.”

Pangeran tersenyum tipis, namun tatapannya menguji. “Uwi adalah anak yang mulia. Namun, Bunga Ilmu ini bukanlah benda yang bisa dipetik begitu saja. Ia hanya akan mekar bagi mereka yang mampu menyatukan rasa dan aksara. Sebelum kau membawanya, kau harus membuktikan bahwa kau bukan sekadar ‘pengantar buku’ yang kosong.”

Pangeran kemudian mengeluarkan sebuah batu datar yang tertutup debu waktu. Di atasnya terdapat goresan-goresan kuno yang rumit.

“Ini adalah Aksara Warisan. Jika kau memang sahabat sejati buku, bacakan pesan yang tersembunyi di balik simbol-simbol ini. Dan ingat, kau hanya punya waktu sampai matahari menyentuh garis cakrawala.”

Buki mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Aksara itu adalah Aksara Sunda Kuno yang bercampur dengan simbol-simbol alam. Buki membuka tasnya, mengambil catatan kecil yang sering ia gunakan untuk mencatat pelajaran dari Aki Wira.

“Huu… Huu… Tenang, Buki. Gunakan matamu untuk melihat pola, gunakan hatimu untuk mencari makna,” bisik Owli menyemangati.

Buki mulai menelusuri garis demi garis. Ia teringat sebuah bab dalam buku sejarah yang pernah ia baca di Pendopo tentang kejayaan Pajajaran. Ia mulai menuliskan kembali simbol-simbol itu di atas kertasnya, merangkainya menjadi kata-kata.

“Simbol ini berarti ‘Air’… yang ini berarti ‘Cahaya’… dan yang di tengah adalah ‘Pena’,” gumam Buki.

Setelah beberapa saat yang menegangkan, Buki menarik napas panjang dan membacanya dengan lantang:

“Cai murni nyiram bumi, aksara caang nyaangan hati. Elmu mah lain keur diri, tapi keur babagi.” (Air murni menyiram bumi, aksara terang menyinari hati. Ilmu itu bukan untuk diri sendiri, tapi untuk berbagi.)

Suasana seketika menjadi hening. Tiba-tiba, batu tua itu bercahaya. Pangeran Aria Suria Atmadja tertawa kecil dan mengangguk puas.

“Kau lulus, Buki. Kau tidak hanya bisa mengeja huruf, tapi kau paham hakikat dari ilmu itu sendiri,” ujar Pangeran. Beliau kemudian merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah gulungan naskah kuno yang bercahaya keemasan.

“Inilah Bunga Ilmu yang sebenarnya. Kumpulan kebijaksanaan masa lalu untuk masa depan. Bawalah kepada Uwi. Katakan padanya, dengan aksara ini, ia akan membangun benteng yang tak bisa dihancurkan oleh penjajah sekalipun.”

Buki menerima gulungan itu dengan tangan bergetar karena bangga. Owli mengepakkan sayapnya dengan riang. Perjuangan mereka menembus Cadas Pangeran dan memecahkan teka-teki kuno akhirnya terbayar lunas.

***

Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Dengan gulungan naskah emas di dalam tas Buki, mereka melintasi kembali Cadas Pangeran dan Jatinangor hingga akhirnya melihat menara Masjid Agung Bandung dari kejauhan. Begitu kaki mereka menginjak jalanan di belakang Pendopo, Uwi sudah menunggu di depan pintu dengan cemas.

“Buki! Owli! Kalian kembali!” seru Uwi sambil berlari menyambut mereka.

Buki terengah-engah tapi tersenyum lebar. Ia mengeluarkan gulungan naskah dari Dayeuh Luhur. “Uwi, kami membawanya. Ini adalah pesan dari Pangeran Mekah, sebuah cahaya untuk anak-anak kita.”

Buki, Uwi, dan Owli segera menuju ke lapangan terbuka di dekat Jalan Ciguriang, tempat anak-anak biasanya berkumpul namun kini hanya duduk terdiam dan lesu. Buki perlahan membuka gulungan naskah tersebut.

Seketika, sebuah keajaiban terjadi. Begitu naskah emas itu terbuka, butiran-butiran cahaya berbentuk huruf-huruf yang menari keluar dari dalamnya. Cahaya itu terbang menyentuh kening anak-anak yang sedang melamun, seolah-olah membangunkan mereka dari tidur yang panjang.

“Huu… Huu… Lihat, Buki! Keajaibannya dimulai!” seru Owli sambil terbang berputar di atas kepala anak-anak.

Satu per satu, anak-anak itu mulai berdiri. Mata mereka yang tadinya redup kini berbinar kembali. Seorang anak laki-laki tiba-tiba mengambil sebatang kayu dan mulai menuliskan namanya di tanah dengan lancar. Di sudut lain, anak-anak perempuan mulai tertawa dan kembali bermain oray-orayan sambil melantunkan lagu-lagu Sunda yang penuh keceriaan.

“Aku ingat sekarang!” teriak salah satu anak. “Aku ingin menulis surat untuk kakekku!” “Aku juga ingin membaca dongeng tentang ksatria dari Sumedang!” seru yang lainnya.

Suasana yang tadinya sunyi berubah menjadi riuh rendah dengan suara tawa dan semangat. Uwi memandang pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ia mengambil sebilah papan tulis kecil dan kapur, lalu duduk di tengah-tengah mereka.

“Ayo semuanya, kemari! Hari ini kita tidak hanya akan bermain, tapi kita akan belajar menuliskan mimpi-mimpi kita di atas papan ini,” ajak Uwi dengan lembut.

Buki berdiri di samping Uwi, merasa bangga. Ia menyadari bahwa Bunga Ilmu bukanlah sihir yang mengubah segalanya secara instan, melainkan kunci yang membuka rasa ingin tahu anak-anak. Berkat literasi, mereka kini punya “senjata” untuk melihat dunia yang lebih luas.

Sejak hari itu, daerah di belakang Pendopo tak pernah sunyi lagi. Uwi dengan semangat merintis sekolahnya, sementara Buki dan Owli terus berkeliling membawa buku-buku baru, memastikan bahwa api semangat membaca di hati anak-anak Pasundan tidak akan pernah padam lagi. [Abah Iyan]

1 thought on “Petualangan Buki dan Owli: Rahasia Bunga Ilmu dari Dayeuh Luhur”

  1. Semoga Bunga Ilmu tiasa direplikasi agar Buki dan Owli bisa terus keliling daerah berbagi buku. Keren pisan tulisan Abah Iyan👍👍

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top