Ada buku-buku yang lahir dari kegembiraan. Ada yang lahir dari ambisi. Dan ada yang lahir dari kehilangan.
Setelah Kesempatan Kedua: Kumpulan Tulisan Gugun Gunardi (Alm) adalah buku dari jenis yang terakhir. Tapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh melampaui kesedihan: warisan seorang akademisi yang memilih menulis bukan untuk dikenang, tapi karena ia percaya bahwa kata-kata adalah cara paling jujur untuk hadir di dunia.
Jihadis Literasi dari Cinunuk
Dr. Drs. Gugun Gunardi, M.Hum. atau yang akrab disapa Abah Gugun lahir di Bandung pada 10 Agustus 1956. Ia menyelesaikan S1 di Prodi Kajian Budaya Sunda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran tahun 1983, melanjutkan S2 di Pascasarjana Unpad tahun 1993, dan meraih gelar doktor dari almamater yang sama pada 2009 dengan promotor yang sama pula, Prof. Fatimah, sejak jenjang S1 hingga S3. Sebuah kesetiaan akademis yang langka.
Setelah purna tugas dari Unpad pada September 2021, ia tidak berhenti. Ia melanjutkan pengabdian sebagai dosen di Universitas Al Ghifari Bandung, mengampu mata kuliah Bahasa Indonesia, Budaya dan Bahasa Sunda, serta Ilmu Budaya Dasar. Dari rumahnya di Komplek Griya Cinunuk Indah, Kabupaten Bandung, ia terus menulis.
Di luar dunia kampus, Abah Gugun adalah bagian dari gerakan literasi yang lebih luas. Ia tercatat sebagai Pengurus IKAPI Jawa Barat, bergabung atas ajakan langsung Mahpudi, Ketua IKAPI Jawa Barat, yang melihat dalam dirinya sosok yang tidak hanya menguasai ilmu bahasa dan sastra, tapi juga mau turun tangan. Di IKAPI, ia bukan hanya nama dalam struktur organisasi. Ia adalah teman berdiskusi, narasumber pelatihan menulis, dan tempat konsultasi tentang kosakata Sunda, tentang budaya, tentang hal-hal yang tidak semua orang tahu cara menanyakannya kepada orang yang tepat.
Mahpudi memanggilnya “Kang Doktor” dan menjulukinya Jihadis Literasi, seorang yang tidak duduk dan sibuk di menara gadingnya, tapi turun bergabung di tengah masyarakat, memberi pencerahan tanpa pamrih.
Tiga Bagian, Satu Jiwa
Buku setebal 265 halaman ini disusun dalam tiga bagian yang mengalir seperti perjalanan hidup penulisnya sendiri.
Bagian pertama mengumpulkan tulisan-tulisan tentang pendidikan, khususnya Bahasa Indonesia dan Basa Sunda. Di sini Abah Gugun hadir sebagai akademisi yang tidak betah di menara gading. Ia menulis tentang undak-usuk basa Sunda, tentang bagaimana hierarki bahasa Sunda tidak lahir dari akar budayanya sendiri melainkan dari pengaruh Kerajaan Mataram Jawa di abad ke-17. Ia menulis tentang kata manèh yang maknanya “kamu” tapi bisa memantik kontroversi besar ketika salah konteks. Pengetahuan yang sangat dalam, disampaikan dalam bahasa yang membuat pembaca awam pun tidak merasa sedang membaca jurnal ilmiah.
Bagian kedua membawa pembaca ke Bandung dan Jawa Barat yang ia cintai dengan cara yang personal: toponimi Kabupaten Bandung yang menurutnya mendesak untuk didokumentasikan sebelum hilang, Suku Baduy sebagai sisa kehidupan masyarakat Sunda tradisional, kampung-kampung adat yang masih bertahan di tengah arus modernisasi. Tulisan-tulisan ini terasa seperti surat cinta kepada tanah kelahiran, penuh perhatian pada hal-hal kecil yang orang lain lewatkan.
Bagian ketiga adalah yang paling intim. Di sini ia menulis tentang hidupnya sendiri. Tentang sepeda ontel pemberian kakaknya yang mengantarnya melewati lorong-lorong Bandung sejak kelas 4 SD. Tentang ibunya Hj. Onah Adenah yang setiap pagi menyiapkan kantong sekolah dari kulit selempang. Tentang Ceu Enèn yang mengantar dan menunggunya di luar kelas selama empat bulan pertama SD dan yang wafat di Tanah Suci tepat ketika ia selesai ujian S2. Tentang jatuh dari pohon kelapa setinggi 12 meter di tahun 1966 dan selamat. Tentang puisi untuk pohon cempaka yang ia tanam saat menikah 42 tahun silam, yang ia tulis pada 23 Oktober 2023 “saat menghadapi keraguan dalam hidupku” sebuah pengakuan yang tidak bisa dibaca tanpa menahan napas.
Dan bagian ketiga itu ditutup dengan tulisan berjudul Tuhan Memberi Kesempatan Kedua.
Kesempatan Kedua yang Ia Ceritakan Sendiri
Tulisan itu bukan judul yang dipilih secara sastra. Ia dipilih karena benar-benar terjadi.
Pada 21 Februari 2022, Abah Gugun berencana menjadi saksi pernikahan seorang sahabat di Gedebage. Tapi badannya menggigil. Demam tinggi, pusing, tidak bisa makan, tidak bisa minum tanpa muntah. Diagnosis dokter: positif Covid-19 dan tifus sekaligus. Dua penyakit menyerang tubuhnya bersamaan.
Ia tidak mendapat tempat perawatan. RS Al Ihsan sudah penuh, sebagian pasien ditampung di tenda darurat di lapangan. Ia dibawa pulang, dirawat di rumah, ditengok dokter dua hari sekali. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya dilarikan ke RS Al Islam dan baru sadar setelah jam menunjukkan pukul 14.00 dengan selang infus terpasang di tangannya.
Sebulan kemudian, ia sembuh. Ia bisa berjalan ke ruang kerjanya sendiri untuk mengikuti rapat online persiapan perkuliahan, meskipun masih menggunakan kruk.
“Tak terhitung berapa ribu kali, seharian itu aku mengucapkan hamdallah. Tuhan Memberikan kesempatan kedua. Subhanalloh, walhamdulillah, wala Illaha Ilalloh, wallohu akbar. Insya Allah kesempatan kedua ini tak akan aku sia-siakan.”
Ia tidak menyia-nyiakannya. Ia kembali mengajar. Ia kembali menulis, meninggalkan tulisan demi tulisan sampai hari-harinya habis. Tapi kenyataannya, Tuhan tidak memberi kesempatan ketiga baginya.
Ketika Tulisan Tahu Lebih dari Penulisnya
Judul Tuhan Memberi Kesempatan Kedua adalah ungkapan syukur. Ketika dibaca setelah kepergian beliau, ia menjadi sesuatu yang lain. Semacam pamit yang tidak disadari. Semacam tanda yang baru terlihat ketika sudah terlambat untuk bertanya.
Kakaknya, R.H. Wigandi Wangsaatmadja, pernah berkata: “Kita memang tidak bisa hidup dari karya tulis, tapi tulisan yang terus kita lahirkan akan menghidupkan penulisnya.”
Kalimat itu kini terasa seperti nubuat. Ada kalanya sebuah tulisan menyimpan kebenaran yang baru terlihat setelah penulisnya tidak ada. Dan itulah mengapa tulisan-tulisan ini harus dijaga, diterbitkan, dan dibaca.
Mengapa Buku Ini Penting
Di tengah lanskap literasi yang lebih sibuk memproduksi konten daripada menyimpan pemikiran, Setelah Kesempatan Kedua mengingatkan kita pada sesuatu yang mendasar: bahwa menulis adalah cara manusia melawan keterbatasan waktu.
Abah Gugun tidak pernah tahu bahwa tulisan-tulisannya akan suatu hari dikumpulkan menjadi buku. Ia hanya menulis: konsisten, serius, dengan cinta yang tidak pernah basa-basi pada bahasa dan budaya yang ia hidupi sepanjang hayat.
Bagi pembaca yang ingin memahami bahasa dan budaya Sunda dari perspektif seorang akademisi yang membumi, buku ini adalah pintu yang terbuka lebar. Bagi siapa pun yang pernah kehilangan seseorang yang gemar menulis, buku ini adalah pengingat bahwa tulisan adalah satu-satunya bagian dari seseorang yang tidak ikut pergi.
Dan bagi para pengurus dan anggota IKAPI Jawa Barat khususnya, buku ini adalah cermin tentang siapa kita seharusnya sebagai pelaku industri buku. Abah Gugun tidak hanya menerbitkan dan mendistribusikan buku. Ia menulis. Ia mengajar. Ia turun ke komunitas. Ia membuktikan bahwa jihadis literasi bukan hanya slogan, tapi cara hidup yang bisa dipilih setiap hari.
Karena komunitas dan organisasi hanya akan bermakna selama ada orang-orang seperti Abah Gugun yang mengisinya dengan sungguh-sungguh.
Kabar baiknya: buku ini tersedia gratis dalam format ebook dan dapat diakses di platform Myedisi. Tidak perlu membeli. Cukup unduh aplikasi Myedisi Reader di Android atau iOS, buka tautannya, dan warisan Abah Gugun sudah ada di tangan Anda.
🔗 Akses gratis di: www.myedisi.com/elfatihmediainsani/760003/setelah-kesempatan-kedua
Tidak ada alasan untuk menunda. Tulisan yang lahir dari kesempatan kedua ini menunggu untuk dibaca — oleh siapa pun yang masih punya waktu dan mau menggunakannya dengan benar.





