Oleh: Abah Iyan*
Alkisah, Karl Marx pernah menulis bahwa agama adalah candu bagi masyarakat. Jika Marx hidup di Jawa Barat hari ini, ia mungkin keliru. Candu itu bukan lagi dogma metafisik, melainkan sebelas laki-laki yang berlari mengejar bola di bawah bendera Persib. Namun, seperti halnya candu atau agama, tingkat “keimanan” dan cara menikmatinya ternyata terbelah dalam sekat-sekat kelas dan labirin motif psikologis yang rumit.
Kemenangan Persib baru-baru ini memicu gelombang euforia yang kolosal. Bandung berubah menjadi lautan biru. Namun, jika kita jeli melihat dari “tengah”, lautan biru itu tidak homogen. Di balik seragam jersi yang sama, tersimpan jutaan motif personal yang saling bertubrukan. Ini bukan hanya urusan sepak bola; ini adalah pasar malam raksasa tempat orang-orang berbelanja pemenuhan ego masing-masing (self-driven).
Di lapisan pertama, ada mereka yang digerakkan oleh ikatan emosional historis dan fanatisme pekat. Bagi kelompok ini, Persib adalah garis keturunan, harga diri, dan sesuatu yang fardu ain untuk dibela sampai ke stadion.
Namun tepat di sebelahnya, ada kelompok yang menunggangi euforia ini demi alasan yang lebih dangkal: validasi sosial dan gaya hidup. Menonton Persib, atau setidaknya ikut konvoi dan mengunggahnya di media sosial telah bergeser menjadi ajang sosialita kelas pekerja hingga menengah. Di sini, Persib dikonsumsi sebagai kosmetik untuk merawat eksistensi digital. Ada ketakutan akut akan tertinggal tren (FOMO) jika tidak ikut berteriak “Juara!”.
Lalu ada lapisan pragmatis: mereka yang terbentur jam lembur atau dompet yang kempis. Kelompok ini memilih nobar di gang kampung atau cukup menyimak update di media sosial dari balik selimut. Bagi mereka, Persib murni berfungsi sebagai hiburan murah, atau lebih tepatnya: pelarian instan dari realitas hidup yang makin menjepit.
Di seberang semua kerumunan itu, muncul kelompok sinis baru. Mereka menolak larut, bukan karena benci sepak bola, melainkan karena muak melihat bagaimana Persib telah bermutasi menjadi mesin kapitalisme industri yang dingin. Di balik fanatisme buta Bobotoh, ada korporasi raksasa yang sedang menghitung profit dari sponsor dan hak siar. Bagi kelompok anti-Persib ini, suporter tak lebih dari konsumen yang sukarela mengeksploitasi diri demi memperkaya oligarki lokal.
Di sinilah letak ironi yang menampar kita semua, apa pun posisi yang kita ambil dalam fenomena ini.
Kelompok borjuis kota yang mengeluh di media sosial sering kali mencibir massa konvoi sebagai kaum “anarkis” yang udik. Sudut pandang ini picik karena gagal melihat bahwa bagi seorang buruh yang terancam PHK atau pengemudi ojek online yang terjerat pinjol, jalanan adalah satu-satunya ruang publik gratis yang tersisa untuk melepaskan frustrasi sosial. Ketika negara gagal memberikan kesejahteraan, Persib hadir memberikan ilusi bahwa mereka adalah “pemenang”—sesuatu yang mustahil mereka dapatkan dalam kehidupan ekonomi sehari-hari.
Namun, di sisi lain, glorifikasi dari para pemuja bola yang menuntut permakluman publik atas nama “pesta rakyat” juga sama butanya. Mengapa amarah dan kegembiraan kolektif yang sedahsyat itu begitu mudah dimobilisasi untuk urusan kulit bundar, tetapi mendadak melempem ketika berhadapan dengan kebijakan publik yang menindas hidup mereka sendiri? Trofi juara, seindah apa pun ia berkilat, tidak akan pernah bisa ditukar dengan penurunan harga beras atau jaminan kesehatan yang layak.
Pada akhirnya, stadion dan jalanan hanyalah panggung sandiwara besar. Setiap orang datang membawa topengnya sendiri: ada yang mencari identitas, ada yang berburu konten, ada yang sekadar melarikan diri dari tagihan bulanan, dan ada yang menghitung dividen dari balik meja kaca korporasi.
Pesta segera usai, suar segera padam, dan asapnya segera menghilang. Besok pagi, semua orang—baik yang fanatik, yang FOMO, yang sinis, maupun yang sekadar mencari pelarian—harus kembali menghadapi kenyataan yang persis sama: jalanan Bandung yang ramai-macet hingga dompet yang kembali kempis.
Menjadikan lapangan hijau sebagai satu-satunya tempat mencari harga diri adalah sebuah tragedi. Selama kita masih mengira kemenangan sebuah klub bola bisa menggantikan kekalahan kita sebagai warga negara dalam menuntut hak hidup yang layak, selama itu pula kita sebenarnya sedang merayakan kekalahan kita sendiri.
Maka, setelah hiruk-pikuk ini surut, silakan bertanya pada diri masing-masing: “Apa manfaatnya bagiku?”
Tidak ada yang benar dan salah di sini. Apakah Persib adalah napas hidup Anda, panggung eksistensi Anda, atau sekadar penat yang luruh selama 90 menit, semuanya kembali pada takaran kebutuhan personal kita yang rapuh. Selamat menyeduh kopi, candunya segera habis. []
*Writerpreneur, Book Publisher, Wakil Sekretaris PD-IKAPI Jawa Barat





