Persib, Bobotoh, dan Jalan Literasi Urang Sunda

buki owli persib

Oleh: Abah Iyan*

Di Jawa Barat, ada satu hal yang sering membuat stadion lebih penuh daripada perpustakaan: cinta. Dan cinta itu bernama Persib Bandung. Setiap kali Persib bermain, jalanan Bandung berubah. Warung kopi lebih hidup. Obrolan jadi lebih panjang. Bahkan orang yang biasanya pendiam mendadak fasih bicara soal strategi, pemain, hingga sejarah pertandingan puluhan tahun lalu.

Di tanah Pasundan, Persib bukan sebatas klub sepak bola. Ia sudah menjadi bagian dari cara urang Sunda membaca dirinya sendiri. Sayangnya, kita sering gagal melihat itu sebagai kekuatan budaya.

Kita terlalu lama memahami literasi hanya sebatas buku pelajaran, perpustakaan, atau angka statistik minat baca. Padahal di tribun stadion, di obrolan Bobotoh, dan di nyanyian panjang yang menggema dari utara ke selatan, sesungguhnya ada praktik literasi yang hidup.

Bobotoh mengingat sejarah. Mereka menghafal nama-nama. Mereka mewariskan cerita. Dari generasi kolot ka budak ngora, kisah tentang Persib terus berpindah lewat percakapan sehari-hari.

Urang Sunda sejak dulu memang hidup dalam tradisi tutur. Di saung-saung kampung, orang tua biasa ngawangkong sambil nyaritakeun banyak hal: tentang sawah, keluarga, politik, sampai sepak bola. Persib kemudian menjadi bahasa bersama yang menyambungkan semua itu.

Karena itu, stadion sesungguhnya bukan hanya tempat pertandingan. Stadion adalah ruang narasi rakyat. Di tribun, ada puisi yang dinyanyikan. Ada satire yang diteriakkan. Ada romantisme tentang Bandung yang tidak pernah benar-benar ditemukan di buku pelajaran sekolah. Bahkan kadang-kadang, lagu Bobotoh terasa lebih jujur daripada pidato-pidato resmi tentang kebudayaan.

Ironisnya, energi sebesar ini belum benar-benar disentuh dunia perbukuan Jawa Barat. Padahal Persib adalah tambang cerita. Kita punya begitu banyak bahan untuk ditulis:

  • sejarah Bobotoh,
  • biografi pemain,
  • kisah tribun,
  • fotografi stadion,
  • cerita perjalanan tandang,
  • bahkan novel tentang kehidupan anak muda Bandung yang tumbuh bersama Persib.

Tetapi sampai hari ini, dokumentasi itu masih tercecer. Banyak hidup di media sosial, hilang di linimasa, lalu tenggelam begitu saja.

Mungkin inilah salah satu kelemahan urang Sunda: kuat dalam rasa, tetapi sering terlambat dalam pencatatan. Kita pandai mencintai, tetapi belum cukup rajin mengarsipkan cinta itu menjadi tulisan. Padahal bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang punya sejarah, tetapi bangsa yang menuliskan sejarahnya.

Persib semestinya bisa menjadi pintu masuk gerakan literasi baru di Jawa Barat. Sebab berbeda dengan kampanye membaca yang sering terasa formal dan birokratis, Persib memiliki sesuatu yang jauh lebih kuat: ikatan emosional. Orang datang ke seminar karena undangan. Tetapi orang datang ke stadion karena rasa memiliki.

Bayangkan jika setiap pertandingan Persib menghadirkan sudut baca. Ada buku tentang sejarah Persib di tribun. Ada lomba menulis untuk Bobotoh muda. Ada pemain Persib yang datang ke sekolah bukan hanya membawa bola, tetapi juga membawa buku. Mungkin anak-anak Jawa Barat akan menemukan bahwa membaca tidak harus terasa seperti kewajiban sekolah. Membaca bisa lahir dari sesuatu yang mereka cintai.

Dan bukankah semua kebudayaan besar memang selalu dimulai dari cinta?

Persib hari ini telah menjadi identitas sosial, budaya, bahkan emosional masyarakat Jawa Barat. Tetapi identitas tanpa dokumentasi perlahan akan berubah menjadi nostalgia. Karena itu, Persib tidak cukup hanya diteriakkan di stadion. Ia juga perlu dituliskan. Agar suatu hari nanti, ketika generasi sekarang sudah menua, anak-cucu urang Sunda masih bisa membaca bagaimana tanah Pasundan pernah memiliki satu warna yang mampu menyatukan begitu banyak hati: biru. []

*Writerpreneur, Book Publisher, Wakil Sekretaris PD-IKAPI Jawa Barat

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top