Menyemai Tunas Muda Antikorupsi: Pendidikan Karakter melalui Program Sekolah Jujur Sekolah Saya (SJSS)

sjss

Penulis: Sumardi
Editor: Kuspriyanto
Penerbit: Elfatih Media Insani
QRCBN : 62-486-7232-657
Terbit: Mei 2026, 204 Halaman


Kita sering kali terjebak pada keyakinan bahwa korupsi hanya bisa diberantas dengan penindakan. Padahal, tanpa perubahan cara pandang dan pembentukan karakter sejak dini, upaya tersebut akan selalu bersifat reaktif.Mengapa meskipun regulasi diperketat, praktik korupsi tetap terjadi? Karena kita melupakan fondasi utamanya: karakter.

Dapatkah kejujuran diajarkan di sekolah? Jawabannya adalah: Bisa. Namun, ia tidak diajarkan melalui papan tulis, melainkan melalui pembiasaan.

Buku ini membedah kesuksesan Program Sekolah Jujur Sekolah Saya (SJSS) yang telah diterapkan di berbagai sekolah sebagai pilot project. Di dalamnya, Anda akan menemukan berbagai inovasi pendidikan karakter yang unik dan aplikatif, seperti: 1) Kantin Jujur & Magic Box: Melatih integritas melalui pengalaman nyata; 2) Agen SEMAI: Menggerakkan perubahan melalui kepemimpinan sebaya; 3) Budaya Antigratifikasi: Membangun ekosistem sekolah yang transparan sejak dini.

Dr. Sumardi dan Tim Irban II menyusun buku ini sebagai sebuah policy framework yang fleksibel, yang membuktikan bahwa sekolah memiliki peran paling strategis dalam memutus rantai korupsi di Indonesia.

Inilah panduan bagi para pendidik, orang tua, dan pengambil kebijakan untuk bersama-sama menjaga masa depan bangsa: satu langkah jujur di satu sekolah pada satu waktu.


Buku berjudul “Menyemai Tunas Muda Antikorupsi: Pendidikan Karakter melalui Program Sekolah Jujur Sekolah Saya (SJSS)” karya Dr. Sumardi, C.FrA ini menghadirkan sudut pandang yang menarik tentang upaya pencegahan korupsi melalui dunia pendidikan. Buku ini mengingatkan kita bahwa korupsi bukan hanya persoalan hukum, tetapi juga berkaitan erat dengan kebiasaan dan karakter. Karena itu, menanamkan nilai kejujuran dan integritas sejak dini menjadi langkah yang sangat penting.

Hal yang menjadi kekuatan buku ini adalah adanya contoh nyata melalui Program Sekolah Jujur Sekolah Saya (SJSS). Program ini menunjukkan bahwa nilai-nilai antikorupsi bisa diajarkan dengan cara sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa, seperti melalui kantin jujur dan berbagai pembiasaan positif di sekolah. Pendekatan seperti ini membuat pesan yang disampaikan terasa lebih mudah dipahami dan diterapkan.

Saya memandang buku ini sebagai referensi yang bermanfaat bagi para pendidik dan semua pihak yang peduli terhadap pendidikan karakter. Buku ini dapat menjadi inspirasi untuk terus membangun lingkungan sekolah yang tidak hanya berfokus pada prestasi akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter yang jujur, bertanggungjawab, dan berintegritas.
Kepala Dinas Pendidikan Pemerintah Kota Semarang / Dr. Muhammad Ahsan, S.Ag, M.Kom.

Buku “Menyemai Tunas Muda Anti Korupsi” menjadi inspirasi bahwa pendidikan karakter dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan sekolah. Melalui Program Sekolah Jujur diharapkan dapat menanamkan nilai integritas sejak dini yang merupakan fondasi penting dalam membentuk generasi yang berakhlak dan berintegritas tinggi.
Plt Inspektur Pemerintah Kabupaten Semarang / Wenny Maya Kartika, S.H., M.H.

Selamat atas terbitnya buku “Menyemai Tunas Muda Anti Korupsi lewat “Sekolah Jujur Sekolah Saya” yang menjadi inspirasi dalam menanamkan nilai kejujuran sejak dini. Semoga karya ini mampu membentuk generasi berkarakter kuat dan berintegritas, serta menjadi fondasi penting dalam membangun budaya anti korupsi di semua lingkungan. Anti korupsi sebenarnya sudah ada di hati suci masing-masing tinggal bagaimana kita mengelolanya.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pemerintah Kabupaten Jepara / Edy Sudjatmiko, S.Sos, M.M., M.H.

Budaya anti korupsi harus terus digalakkan melalui tiga pilar, yaitu preemptive, preventive, dan represive. Kita tahu bahwa selama ini pencegahan korupsi yang diinisiasi KPK melalui pilar preventive dan represif selalu gencar ditegakkan, namun selalu saja muncul dan tak surut efek jeranya. Kita kurang dalam penegakan integritas yang seharusnya dimulai dari bangku pendidikan agar ke depan tidak ada lagi yang berniat untuk korupsi, harus dipandang bahwa korupsi adalah perbuatan hina di hadapan Allah Swt.
Inspektur Pemerintrah Kabupaten Purworejo / Drs. R. Achmad Kurniawan, MPA.

Korupsi sering lahir dari kompromi kecil yang dibiarkan. Di situlah pentingnya buku ini mengingatkan kita bahwa perang melawan korupsi dimulai dari karakter bukan sekedar aturan ataupun temuan kelebihan bayar ataupun kesalahan administratif terus mengembalikan.

Buku ini memberikan penekanan lebih pada awal mengapa korupsi terjadi. Korupsi terjadi karena karakter individu baik yang “terkalahkan” oleh kebiasaan atau “kultur/sistem negatif”. Menurut saya pertarungan anti korupsi yang sebenarnya justru dimulai dari dalam hati setiap individu, di rumah-rumah dan di sekolah-sekolah para tunas muda. Bukan dalam tindakan kuratif di Inspektorat, BPK, Kepolisian, Kejaksaan ataupun KPK.

Buku ini menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi utama pencegahan korupsi. Pendekatan melalui Program SJSS sangat relevan karena menekankan pembiasaan nilai, bukan hanya teori. Ini merupakan kekuatan utama buku ini yang menghadirkan solusi kongkrit berbasis praktik di sekolah.

Hal-hal yang dapat diperkuat lagi antara lain adalah perlu memperdalam bahwa integritas bukan hanya mengetahui nilai, tetapi kemampuan menjaga nilai saat menghadapi tekanan. Tanpa itu pendidikan karakter, kejujuran akan berhenti pada slogan. Perlu menekankan bahwa membangun sistem dan budaya jujur sama pentingnya dengan membentuk individu yang jujur. Penting kiranya untuk memasukkan prinsip sederhana namun kuat. “Katakan yang anda kerjakan, kerjakan yang anda katakan”. Kesatuan antara ucapan dan tindakan adalah inti integritas yang harus menjadi indikator keberhasilan. Penting juga penegasan kunci kemajuan bangsa Indonesia adalah kejujuran masyarakat dan pemerintah pada semua sektor kehidupan karena tanpa kejujuran sistem terbaikpun akan gagal.

Aspek keteladanan perlu ditekankan lebih kuat. Tunas muda belajar dari apa yang mereka lihat dan rasakan, bukan hanya dari apa yang diajarkan di bangku sekolah. Penulis buku ini sudah memberikan arah yang tepat namun akan lebih berbobot jika memperkuat dimensi praktik integritas sebagai kebiasaan, sistem, dan keteladanan nyata. Hal yang lebih penting lagi adalah perubahan mendasar orientasi pragmatis di dunia pendidikan untuk mencapai Indonesia yang bersih dan berintegritas. Untuk itu diperlukan political will dari pemerintah yang kuat, konsisten, dan berkelanjutan. Terakhir hal ini tidak mudah kita seringkali “menganggap” politik sebagai panglima.”
Staf Ahli Wali Kota Semarang Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik / Yudi Wibowo, S.E.

Buku ini merupakan karya yang sangat baik dan relevan, karena mengangkat isu korupsi dari sisi yang lebih mendasar, yaitu melalui pembangunan karakter sejak dini. Pendekatan yang ditawarkan tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga aplikatif melalui program di lingkungan sekolah. Hal ini tentu menjadi langkah strategis dalam menyiapkan generasi yang berintegritas. Saya mengapresiasi penulis dan semoga karya ini dapat terus menginspirasi serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Kepala Dinas Penanaman Modal Pelayanan Terpadu Satu Pintu Pemerintah Kota Semarang / Drs. Putut W. Hadinugroho, M.M.

Dapatkan ebook di:

https://www.myedisi.com/elfatihmediainsani/1066766/menyemai-tunas-muda-antikorupsi

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top