Oleh: Abdul Raup Ketua IKAPI Jawa Barat
Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika roda kendaraan kami mulai membelah kabut pagi dari Bandung menuju arah barat. Perjalanan subuh menuju Sukabumi kali ini terasa berbeda. Jalur Cianjur yang biasanya padat menyambut kami dengan kondisi “ramai lancar” yang menenangkan. Di balik kemudi, ada antusiasme yang tumbuh seiring semburat oranye di ufuk timur. Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan kerja organisasi, melainkan sebuah ziarah literasi menuju salah satu kawah candradimuka pendidikan di SMA Al-Bayan Cibadak, Sukabumi.

Setibanya di sana, dinginnya udara Sukabumi langsung terhapus oleh kehangatan sambutan Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Bapak M. Tasurun Aminuddin, S.T., M.Kom., dan Kepala Perpustakaan Al-Bayan, Ibu Heni Hikmayani Fauzia, S.Sos., M.Pd. Di ruang tamu yang tertata apik, obrolan kami mengalir deras. Mulai dari tren buku-buku populer yang tengah digandrungi remaja hingga padatnya agenda perpustakaan yang nyaris tak pernah sepi. Kami mendapat cerita bagaimana siswa Al-Bayan yang dipimpin oleh Bapak Deden Ramdani, M.Pd. selaku Kepala Sekolah memiliki budaya baca yang luar biasa. Sekolah selalu menyediakan anggaran untuk menambah koleksi perpustakaan dengan buku-buku baru. Diskusi ini semakin berbobot karena turut dihadiri oleh Bapak Iqbal Santosa, Direktur Penerbitan Terra Pustaka, yang memberikan perspektif tajam mengenai dinamika industri perbukuan nasional di tengah gempuran era digital.
Puncak acara bergeser ke aula, tempat Coaching Clinic Penulisan dan Penerbitan Buku digelar. Sekretaris IKAPI Jawa Barat, Bapak Taofiq Rahman, membuka sesi dengan prolog yang memikat, membakar semangat para siswa tentang pentingnya jejak literasi. Saat giliran saya berdiri di depan, saya mencoba menyentuh sanubari mereka melalui kearifan lokal. Saya sampaikan bahwa dalam filsafat Sunda, sumber ilmu dan kecerdasan berpijak pada tiga pilar utama: Luang, Daluang, dan Papada Urang.

Luang adalah pengalaman, maka menulislah dari apa yang kita jalani. Daluang adalah kertas atau bacaan, maka menulislah dari intisari buku yang kita lahap. Papada Urang adalah sesama manusia, maka menulislah dari hasil interaksi dan diskusi hangat dengan kawan.

Ketiga pilar ini adalah fondasi bagi siapa pun yang ingin mengabadi dalam tulisan. Estafet materi kemudian dilanjutkan oleh Direktur Terra Pustaka yang membedah teknik menulis, seni menyunting, hingga kiat-kiat menembus dapur penerbitan.
Antusiasme peserta benar-benar di luar ekspektasi. Ruangan itu seolah berubah menjadi tungku api yang berkobar. Para siswa yang hadir bukan semata audiens pasif, mereka adalah pembaca rakus dan calon penulis tangguh. Saya dibuat takjub saat mengetahui ada di antara mereka yang mampu melahap hingga 150 judul buku nonpelajaran dalam setahun. Sebuah angka yang melampaui rata-rata nasional dan menjadi bukti bahwa di Al-Bayan, literasi bukan sekadar slogan, melainkan gaya hidup.

Kegiatan ditutup dengan kunjungan ke stan bazar buku “Temu Baca” yang digelar di teras Masjid Al-Bayan. Di sana, pemandangan luar biasa kembali tersaji. Di teras rumah ibadah itu, saya menyadari bahwa literasi dan spiritualitas adalah dua sayap yang akan membawa mereka terbang tinggi.

Al-Bayan bukan hanya sekolah. Ia adalah tungku api yang terus menjaga nyala literasi di Jawa Barat tetap membara. []





