Oleh: Abah Iyan
Writerpreneur, Book Publisher, Co-Founder Bengkel Narasi, Wakil Sekretaris PD-IKAPI Jawa Barat 2026–2031
Saya masuk ke dunia perbukuan karena sebuah kecelakaan.
Buku saya dibajak. Dijual di marketplace seolah tidak ada yang salah. Saya kesal. Wajar. Tapi dari kekesalan itu Bambang Trim, seorang penulis profesional yang saya hormati, melempar sebuah tantangan: kalau tidak mau dibajak, terbitkan sendiri.
Saya terima tantangan itu. Dan dari satu keputusan kecil yang lahir dari luka, saya akhirnya bisa membantu orang lain menerbitkan buku mereka juga.
Begitulah. Kadang jalan yang paling bermakna dimulai dari “dendam” yang tidak kita rencanakan.
Salah satu buku yang saya terbitkan adalah 100 Hari Narasi Hati: Kritik, Romansa, dan Hikmah karya Dr. H. Tammasse Balla, M.Hum. Buku itu sudah setahun duduk di rak saya. Sudah saya baca, sudah saya simpan, sudah saya anggap selesai.
Sampai beberapa waktu lalu saya bertemu Pak Partoyo, Ketua PC-IKAPI Kabupaten Bandung. Di tengah obrolan ia menyebut sesuatu yang membuat saya berhenti: “Itu buku yang dicetak hardcover di Kang Undang bagus pisan isinya.”
Saya pulang. Menghampiri rak. Membuka buku itu lagi. Dan saya sadar ada buku yang baru benar-benar bisa dibaca ketika kita sudah siap menerimanya.
Tammasse Balla bukan nama baru bagi saya. Kami bertemu di Bengkel Narasi, komunitas menulis yang kami bangun bersama. Di sana beliau adalah salah satu suara yang paling konsisten hadir. Menulis tentang waktu yang berjalan tanpa menunggu. Tentang kasih orang tua yang tak pernah bisa dibalas tuntas. Tentang janji-janji politik yang menguap bersama sorak kemenangan. Tentang pelajaran dari Singapura dan aroma debu sejarah di jalanan Kairo.
Beliau adalah Ketua Program Studi S2 Bahasa Indonesia di Universitas Hasanuddin. Seorang akademisi yang seharusnya cukup sibuk dengan dunia kampus. Tapi Tammasse Balla memilih untuk terus menulis untuk publik. Dalam bahasa yang tidak berjarak. Tentang hal-hal yang dirasakan orang biasa setiap harinya.
Itulah yang membuat buku ini terasa seperti percakapan. Bukan ceramah.
Sastrawan Taufiq Ismail mencatat bahwa Tammasse Balla hadir dengan bahasa yang indah sekaligus lugas. Saya membacanya dan mengangguk. Karena memang begitulah rasanya: seperti air jernih yang tidak perlu keruh untuk terasa dalam.
Buku ini bergerak di tiga wilayah: kritik sosial, romansa, dan hikmah. Tiga hal yang sesungguhnya tidak pernah benar-benar terpisah dalam kehidupan nyata. Dan membacanya, untuk kedua kali, saya memperlambat diri dengan sengaja. Bukan karena sulit dipahami. Tapi karena sayang untuk terlalu cepat selesai.
Mungkin memang begitu cara buku bekerja. Ia tidak pernah terburu-buru. Dan perlahan ia mengajari kita untuk tidak terburu-buru juga.
Kita hidup di zaman yang menghukum siapa pun yang lambat. Scroll terlalu pelan, konten berganti sebelum sempat dipahami. Diam terlalu lama, dianggap tidak relevan. Bahkan rasa sedih pun kini punya tenggat waktu. Ada tuntutan tak tertulis untuk segera bangkit. Segera produktif. Segera terlihat baik-baik saja.
Di tengah semua itu, membaca buku adalah perlawanan yang sunyi.
Buku tidak menyesuaikan diri dengan kecepatan kita. Ia meminta kita turun dari ritme dunia dan masuk ke ritme yang lain. Di sanalah sesuatu dalam diri kita mulai bernapas lagi.
Ada perjalanan yang hanya bisa ditempuh dengan duduk diam.
Ketika membaca, ada bagian dari kita yang berangkat. Menyusuri kalimat seperti menyusuri jalan setapak. Kadang tersesat di babak yang berat. Kadang berhenti di halaman yang terlalu indah untuk segera ditinggalkan.
Saya masih ingat pertama kali membaca Ronggeng Dukuh Paruk. Saya sedang duduk di ruangan sempit di kota yang tidak pernah sunyi. Tapi selama beberapa jam saya ada di tempat lain. Di tanah yang berbau sawah. Di bawah langit yang menyimpan tragedi. Ketika buku itu saya tutup, dunia di sekitar saya tidak berubah. Tapi ada sesuatu di dalam saya yang sudah berbeda.
Mungkin itulah yang disebut transformasi. Yang diam-diam. Yang bekerja seperti cahaya pagi. Tidak terasa datangnya, tapi perbedaannya nyata.
Ada sesuatu yang tidak saya temukan di tempat lain selain buku: pengalaman yang benar-benar menjadi milik kita.
Platform bisa ditutup. Algoritma bisa berubah. Konten yang hari ini viral bisa menghilang tanpa jejak besok pagi. Tapi buku yang sudah kita baca itu menetap. Bukan di rak. Tapi di dalam. Di lapisan pemikiran yang terbentuk perlahan. Di cara kita memandang sesuatu yang bergeser tanpa kita sadari.
Tidak ada yang bisa mengindeksnya. Tidak ada yang bisa mengambilnya.
Sebagai insan perbukuan saya sering dihadapkan pada angka: oplah, distribusi, hingga tren pasar. Tapi di balik setiap angka itu selalu ada bayangan seseorang yang sedang duduk di suatu tempat. Di sudut coffee shop yang remang. Di kursi commuterline yang bergoyang. Seseorang yang sedang membangun sesuatu di dalam dirinya yang tidak kelihatan dari luar.
Itulah yang kita jaga. Itulah alasan mengapa buku tetap layak diperjuangkan dan dibaca. Bahkan di zaman yang tampaknya tidak lagi membutuhkan ketenangan.
Saya ingin mengajak Anda bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali Anda benar-benar hadir? Bukan di depan layar. Bukan di tengah percakapan yang tidak selesai. Tapi hadir sepenuhnya dalam keheningan yang Anda pilih sendiri.
Mungkin ada sebuah buku yang sudah lama menunggu di rak Anda.
Buku tidak mengirim notifikasi. Ia hanya ada. Diam dan sabar. Menunggu saat Anda siap untuk datang.
Dan ketika Anda datang, ia akan membuka pintunya. Selalu seperti itu. []
Buku, Ruang Tenang Kita





